Live Streaming - The 1st Andalas Intenational Nursing Conference (AINiC)  Klik tombol ini untuk melihat
Toggle Bar

Perpustakaan Digital : Melangkah Dibelenggu Sejarah

31 Agustus 2017

Padang (Unand) - Dulu ketika mendengar kata pustakawan, orang akan membayangkan seorang tukang jaga buku yang tidak mengerti apa isinya, dan pasif menunggu orang datang (Zulfikar Zen dalam Sutarno, N.S. (2006)).Begitu juga dengan image perpustakaan sendiri. Sebelum abad millenium perpustakaan mengalami masa-masa “suram”.Perpustakaan dianggap hanya sebagai gudang tempat penyimpanan buku. Bahkan dalam tata kelola kepegawaian, perpustakaan menjadi tempat “buangan” orang-orang yang bermasalah. Pegawai-pegawai yang sering melanggar disiplin, atau mereka yang sering sakit-sakitan biasanya dipindahkan ke perpustakaan. Kondisi ini terjadi hampir di semua jenis perpustakaan tanpa bisa dipungkiri. Mulai dari tingkat pusat (Perpustakaan Nasional RI) sampai daerah.

Persepsi tersebut ternyata belum sepenuhnya hilang saat ini, walaupun kita sudah berada di era digital, bahkan di perpustakaan perguruan tinggi sekalipun. Seperti yang disampaikan oleh salah seorang pejabat beberapa waktu lalu, bahwasanya kerja di perpustakaan cuma membuang-buang masa dengan rutinitas sehari-hari menyusun buku di rak.Apatah lagi masyarakat awam yang jarang bersinggungan dengan dunia akademik.

Di sisi lain, tidak ada orang yang berani membantah akanperan perpustakaan sebagai pusat informasi, sumber belajar dan sarana penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Bahkan di kampus perpustakaan dianggap sebagai jantungnya perguruan tinggi,karena perannya dalam menopang Tri Dharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat). Seiring dengan perkembangan teknologi informasi fungsi perpustakaan-pun semakin berkembang. Digitalisasi perpustakaan menjadi sebuah tuntutan yang tidak bisa dihindarkan. Manajemen perpustakaan sudah dikelola menggunakan sistem komputerisasi, yang lebih dikenal dengan automasi perpustakaan. Koleksi perpustakaan tidak hanya dalam bentuk fisik, akan tetapi sebagian sudah berbentuk digital. Manajemen perpustakaan pun perlahan-lahan mulai berbenah mengikuti perkembangan teknologi informasi.

Sepertinya telah terjadi anomali antara tuntutan terhadap perkembangan perpustakaan digital dan mindset pengambil kebijakan dalam tata kelola kepegawaian saat ini,. Masifnya perkembangan perpustakaan di era digital, yang menuntut staf yang mampu berfikir dan bertindak sebagai seorang manejer informasi,  tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya manusia yang mumpuni, yang mampu mengelola perpustakaan mengiringi perkembangan teknologi informasi. 

Di perpustakaan perguruan tinggi yang sedikit lebih maju dibandingkan dengan jenis perpustakaan lainnya, kondisnya tidak jauh berbeda.Sebagai penopang Tri Dharma Perguruan Tinggi, perpustakaan dituntut untuk menyediakan koleksi-koleksi penopang kurikulum perkuliahan, bukan hanya koleksi analog, akan tetapi juga koleksi digital seperti e-journal dan ebook, disamping sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dan yang tak kalah pentingnya, saat ini perpustakaan perguruan tinggi dituntut untuk menerapkan sistem manajemen mutu (SMM) ISO 9001 di perpustakaan, tidak lagi sebatas akreditasi yang dikeluarkan oleh Perpusnas RI.

Di sisi lain, perpustakaan perguruan tinggi mempunyai beban kerja yang jauh lebih berat dibandingkan dengan perpustakaan jenis lain.  Mereka melayani lebih banyak anggota dengan koleksi yang juga lebih banyak. Akan tetapi pada kenyataannya sampai dengan saat ini tidak sedikit pimpinan perguruan tinggi yang memandang sebelah mata terhadap perpustakaannya.  

Di Universitas Andalas contohnya, perpustakaan sebagai sebuah unit pelaksana tugas (UPT) yang dikepalai oleh Kepala Bagian (pejabat esselon III) dan dibantu oleh 1 orang Kepala Sub Bagian. Mereka membawahi sebanyak 35 orang staf, baik dari unsur pustakawan maupun non pustakawan. Saat ini berdasarkan data laporan tahunan tahun 2016, perpustakaan melayani sebanyak +19.000 orang anggota aktif (mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan), dan mengelola + 152.000 koleksi.

Sebagai sebuah unit layanan mereka dituntut untuk memberikan pelayanan yang prima terhadap pemustaka (pengunjung), yang jumlahnya rata-rata 2.000 orang per hari, dengan berbagai aktifitas dan kegiatan di 4 lantai yang ada di Gedung Perpustakaan. Kalau kita bandingkan dengan unit-unit lainnya yang ada di kampus Universitas Andalas, dengan level yang sama di Struktur Organisasi dan Tata Kelola Kepegawaian, mungkin akan sulit menemukan tugas dan tanggung jawab yang menyamai atau melebihi beban tugas yang diemban oleh staf Perpustakaan. Di fakultas saja misalnya yang rata-rata mengelola sekitar 2.000 orang mahasiswa dan tidak lebih dari 100 orang dosen, kinerja stafnya masih dibackup oleh dekan, wakil dekan dan pengelola program studi. Sedangkan untuk unit-unit yang ada di rektorat justru skop layanannya jauh lebih sempit. Karena hanya mengerjakan administrasi rutin perkantoran, tanpa memberikan layanan kepada stake holder.

Layanan perpustakaan saat ini tidak hanya sebatas untuk stake holder di internal saja, akan tetapi juga tamu-tamu dari eksternal kampus. Setiap tahun pasti ada kunjungan dari luar, seperti sekolah, perpustakaan atau instansi lain yang melakukan studi banding. Selain itu perpustakaan juga dituntut untuk aktif dalam forum-forum ilmiah yang diikuti oleh pimpinan dan pustakawan  baik di lingkungan perguruan tinggi, maupun semua jenis perpustakaan. Belum lagi fungsi pembinaan dan bimbingan yang diberikan kepada pemustaka. Tidak beralasan jika dikatakan bahwasanya untuk melihat kualitas sebuah perguruan tinggi, salah satunya tercermin dari bagus tidaknya perpustakaannya.

Akan tetapi dengan posisi yang sangat penting dan tugas, serta tanggung jawab yang sedemikian besar, kenapa sampai dengan saat ini persepsi orang, termasuk decision makermasih terbelenggu dengan mindset lama, dimana perpustakaan merupakan “gudang buku” dan tempat “buangan” pegawai-pegawai bermasalah. Sampai kapan persepsi ini akan berubah, akankah koleksi digital hanya sebagai syarat untuk mendapatkan label digital, dan hanya teronggok di dalam pangkalan data karena ketidakmampuan staf dalam mengelolanya, atau menunggu masyarakat disibukkan dengan informasi hoax yang berseliweran di media sosial, karena pustakawannya tidak mempunyai kompetensi dan perpustakaan tidak layak lagi dijadikan sebagai sumber ilmu pengetahuan.

Mungkin patut juga kita menghimbau, terutama kepada pengambil kebijakan terkait dengan perpustakaan, bahwasanya saat ini kita sudah berada di era digital, teknologi informasi telah merubah perilaku dan kebutuhan masyarakat akan informasi. Mereka butuh informasi yang up to date, yang bisa diakses dengan cara yang mudah dan cepat. Perpustakaan harus bisa mengimbangi perubahan tersebut, dengan terus berbenah melakukan digitalisasi perpustakaan, agar tetap bisa menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Perpustakaan tidak hanya butuh penjaga buku, akan tetapi lebih dari itu, ia butuh orang-orang yang bertugas sebagai manejer informasi. Semua itu hanya bisa diwujudkan dengan dukungan infrastruktur dan sumber daya manusia yang berkualitas. (Info : Andi Saputra Staf UPT Perpustakaan Universitas Andalas).

Humas dan Protokol Unand

 

 

Read 266 times