Video Live Streaming Research and Scientific Publication Workshop: Redirecting Banking and Finance for Development  Klik tombol ini untuk melihat Live Streaming
Toggle Bar

Unand Bahas Potensi dan Hambatan Indonesia Menuju Swasembada Pangan

19 April 2017

Padang (Unand) -  Menteri Pertanian Era Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono periode 2004-2009 Dr. Anton Apriyantono menyatakan swasembada pangan tidak mudah dilakukan di Indonesia karena tidak semua bahan pangan bisa di produksi di Indonesia.

Hal itu ia sampaikan dalam forum Seminar Nasional yang diadakan oleh Forum Studi Dinamika Islam Fakultas Pertanian Universitas Andalas pada Rabu (19/04) dengan mengangkat topik Potensi dan Hambatan Indonesia menuju Swasembada Pangan yang berlangsung di Gedung Convention Hall Kampus Unand Limau Manis Padang.

“Dalam swasembada pangan itu harus spesifik, pangan yang mana? gandum, kedelei, sorgum, jagung atau beras dan banyak yang lainnya”ujarnya.

Seperti tanaman kedele, tanaman kedelei merupakan tanaman asli subtropics ketika dibawa atau ditanam di daerah tropics produktifitasnya akan rendah dan hanya bagus ditanam di musim kemarau.

“Dalam hal kedelei, Indonesia impor kedelei 1,8 juta ton/tahun jika dibandingkan dengan negara lain seperti Tiongkok yang jumlah impornya sampai 60 juta ton/tahun jauh lebih besar dibandingkan dengan Indonesia karena itu sebanding dengan jumlah penduduknya yang besar,”ujarnya.

Ia menjelaskan apakah kita memaksakan petani untuk menanam kedele padahal hasil dari kedele kecil sekali keuntungannya akibatnya kesejahteraan petani tidak banyak berubah.

“Lebih penting mana swasembada atau kesejahteraan petani, swasembada itu harusnya meningkatkan kesejahteraan petani,”ungkapnya

Ia menambahkan yang harus dilakukan adalah dengan memanfaatkan teknologi serta memaksimalkan lahan-lahan yang ada.

Lebih lanjut Ia mencontohkan seperti di Yokohama Jepang menerapkan pertanian kota dimana diselah-selah perumahan terdapat rumah kaca yang dikelola dengan menggunakan teknologi modern sehingga cukup mampu untuk menghidupi keluarganya.

“Pada akhirnya swasembada pangan pokok memungkinkan terjadi dengan syarat pangan pokoknya merupakan komunitas lokal,”ungkapnya.

Dalam ketahanan pangan yang terpenting adalah petaninya terlindungi dengan cara menetapkan harga dasar dan mendukung dengan berbagai kebijakan atau program.

Berbicara ketahanan pangan ada empat aspek yang harus diketahui yakni produksi, komsumsi, distribusi dan keterjangkauan.

Strategi dalam memperkuat ketahanan pangan nasional tidak lain adalah dengan meningkatkan produksi pangan, pengamanan hasil produksi pangan, diversivikasi pangan, pengembangan pangan olahan berbasis pangan lokal dan produk diversivikasi serta melalui pendidikan dan kompanye.

Berkaitan dengan diversivikasi pangan, Indonesia harus menguranggi ketergantungan terhadap beras selain itu perlu ada upaya penyediaan pangan olahan berbahan baku pangan lokal dan produk diversivikasi yang menarik serta disukai.

Untuk pengembangan pangan olahan dengan memanfaatkan dan menggunakan bahan baku pangan lokal seperti jagung, sagu, ubi jalar, ubi kayu dan pisang.

Ia mengungkapkan dalam kompanye diversivikasi pangan dan produk pangan berbahan baku pangan lokal harus dilakukan secara gencar dan continue melalui berbagai media seperti TV, Radio, Koran dan lain sebagainya.

Dalam seminar ini turut hadir Walikota Padang Mahyeldi Ansyarullah, Kepala Badan Ketahanan Pangan Sumbar Ir. Efendi MP, Dekan Fakultas Pertanian Dr. Munzir Busniah dan tamu undangan lainnya.

Humas dan Protokol Unand

 

Read 346 times