Wisuda IV Tahun 2017, Program Doktor, Magister, Profesi dan Spesialis  Klik tombol ini untuk Melihat
Toggle Bar

Kepala BMKG RI : Indonesia Supermarket Bencana

21 Maret 2017
Kepala BMKG RI : Indonesia Supermarket Bencana Humas dan Protokol Unand

Padang (Unand) - Universitas Andalas melalui Himpunan Mahasiswa Fisika (Himafi) Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) menghadirkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Republik Indonesia,  Dr. Andi Eka Sakya, M. Eng sebagai pembicara pada kuliah umum yang dilaksanakan pada Senin (20/3) di Convention Hall Kampus Unand Limau Manis Padang. 

Kuliah umum yang diikuti sekitar 500 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa  dan dosen Universitas Andalas ini mengangkat tema “Penelitian dan Pengembangan Dalam Mendukung Mitigasi Bencana”. Turut dari Rektor Universitas Andalas, Wakil Rektor III Universitas Andalas beserta jajaran pimpinan di lingkungan Universitas Andalas.

Rektor Unand,  Prof.  Dr.  Tafdil Husni,  SE, MBA menyampaikan ucapan terima kasih atas kehadiran Dr.  Andi Eka Sakya di kampus Unand di tengah kesibukanya sebagai kepala BMKG RI.  Kita juga mengetahui bahwa Dr. Andi juga merupakan Presiden Badan Meteorologi Dunia untuk Wilayah V (RA V) Asia Tenggara dan Pasifik Barat, Anggota Dewan Penasehat Sekjen dalam urusan Global Meteo-Alarm System. Tentu pengalaman dalam prosesi beliau saat ini dapat dimanfaatkan oleh mahasiswa dalam memperoleh wawasan yang lebih mengenai Iklim dan cuaca serta hal-hal yang berkaitan dengan bidang kerja baliau. 

Rektor juga menyebutkan Sumatera Barat merupakan daerah yang potensi bencananya cukup tinggi mulai dari tsunami, banjir, longsor, gunung meletus dan sebagainya. Salah satu penyebab dari bencana tersebut adalah perubahan iklim. Untuk itu, perlu kiranya kita mendengarkan penjelasan mengenai hal tersebut. 

“Sebagai institusi pendidikan Universitas Andalas sudah sewajarnya ikut terlibat dalam penelitian dan pengembangan dalam mitigasi bencana. Hasil penelitian ini tentu dapat dijadikan masukan bagi pengambilan kebijakan guna menanggulangi bencana”tambahnya.

Sementara itu, Kepala BMKG RI, Dr. Andi Eka Sakya, M.Eng mengatakan bahwa Indonesia merupakan supermarket bencana karena indonesia memiliki berbagai jenis bencana. 

Berdasarkan kalkulasi BNPB tahun 2016, rata-rata kerugian ekonomi pertahun sebagai dampak bencana alam di Indonesia mencapai 30 triliyun rupiah. Pada kenyataannya, tidak saja secara global pada tingkat nasional pun bencana alam, terutama hidro-meteorologis semakin meningkat.

Lebih lanjut ia mengatakan peristiwa hidrometereologis atau gejala di perairan dan cuaca mendominasi faktor penyebab bencana dan kecelakaan di dunia pada 5 tahun terakhir ini.

"Sekitar sembilan puluh persen kondisi dan gejala hidrometereologis baik itu kekeringan, angin puting beliung, kebakaran hutan, maupun hujan menyebabkan kerugian bencana yang besar" ucapnya.

Ia menyebutkan bila diukur dari kerugian beberapa bencana besar seperti Badai Katrina, Tsunami di Jepang hingga Badai Tropis di Pasifik menyebabkan kerugian hingga milyaran dolar Amerika.

Hal yang sama juga terjadi di Indonesia yang dari perhitungan efek ekonomi mengalami kerugian Rp30 triliun per tahun. Ia mengatakan bencana di udara seperti kecelakaan pesawat, tenggelam dan kandasnya kapal, kecelakaan di darat hingga juga memberikan dampak kerugian yang nyata.

Ia menjelaskan kecelakaan pesawat atau kecelakaan kapal di Indonesia dominan terjadi pada musim hujan atau pancaroba di rentang Januari, Juli, Agustus, atau September.

"Selain penyebab bencana, peristiwa hidrometereologis juga menyebabkan kerugian dari keterlambatan," katanya.

Ia menggambarkan di Amerika terdapat kerugian sekitar 41 miliar dolar AS akibat keterlambatan penerbangan yang terjadi karena faktor cuaca.

"Dari hal ini bisa disimpulkan bahwa perlu adanya penelitian lebih lanjut dan perubahan paradigma dalam mitigasi bencana tersebut," ujarnya.

Upaya  global pengurangan resiko bencana (PRB) sebagai akibat dari keniscayaan perubahan iklim telah didukung oleh langkah-langkah kesepakatan internasional melalui badan-badan PBB, seperti pertemuan COP maupun Sendai pada tahun 2015. Langkah kesepakatan tersebut paling tidak telah memulai merambah pada dua pokok persoalan yaitu mitigasi dan adaptasi bahkan pendanaannya. 

Namun demikian, belum banyak ditemukan langkah-langkah baru yang secara sistematis, tajam dan efektif dalam mengurangi resiko bencana. Beberapa isu terkait dengan lambatnya implementasi langkah ini antara lain bencana sering dikaitkan dengan tingkat kondisi kerentanan lokal, belum terakomodasikannya peringatan dini yang menggambarkan prakiraan dampak dan paparan penyebab, tingkat akurasi prakiraan, bahkan masih terabaikannya bencana yang sifat peristiwanya lambat seperti El Nino dan sebagainya.

Humas dan Protokol Unand

 

Read 414 times